Mohon Maaf, Website Sedang dalam Tahap Pengembangan. Terima kasih telah mengunjungi situs kami. Saat ini, kami sedang melakukan pengembangan dan pembaruan sistem guna memberikan pengalaman menjelajah yang lebih baik bagi Anda. Beberapa fitur mungkin belum berfungsi secara optimal. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan sangat mengapresiasi kesabaran Anda. Silakan kembali lagi dalam beberapa waktu ke depan.   •   Mohon Maaf, Website Sedang dalam Tahap Pengembangan. Terima kasih telah mengunjungi situs kami. Saat ini, kami sedang melakukan pengembangan dan pembaruan sistem guna memberikan pengalaman menjelajah yang lebih baik bagi Anda. Beberapa fitur mungkin belum berfungsi secara optimal. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan sangat mengapresiasi kesabaran Anda. Silakan kembali lagi dalam beberapa waktu ke depan.   •   
← Kembali
Pesantren • Kamis, 08 Oktober 2026 • 10:36 WIB 35 views
Kamis, 08 Oktober 2026 10:36 WIB • 2 hours ago

Tampar Realitas Korupsi, Muhamad Farid dan Zidniy Ilman Pukau Orang Tua Lewat Pidato Kritis dalam Acara Sambangan Pesantren Al-Azka Cisauk

Tampar Realitas Korupsi, Muhamad Farid dan Zidniy Ilman Pukau Orang Tua Lewat Pidato Kritis dalam Acara Sambangan Pesantren Al-Azka Cisauk

CISAUK, TANGERANG – Kegiatan Sambangan Santri yang digelar di Pesantren Al-Azka Cisauk pada Ahad, 22 Rabiul Akhir 1448 Hijriah berubah menjadi panggung penuh haru dan decak kagum. Tidak sekadar menjadi ruang konvensional pelepas rindu antara anak dan orang tua, momentum ini dimanfaatkan sebagai ajang unjuk bakat, mentalitas, dan ketajaman berpikir para santri di hadapan publik.

Dari berbagai rentetan penampilan yang disajikan, perhatian ratusan wali santri tersedot sepenuhnya saat dua orator cilik, Muhamad Farid dan Muhammad Zidniy Ilman Ar - Rayyan, naik ke atas mimbar. Menguasai panggung dengan teknik public speaking yang matang, vokal yang lantang, dan pembawaan yang penuh karisma, kedua santri ini membawakan pidato berbobot yang sarat akan kritik sosial terhadap realitas bangsa saat ini.

 

Pesan Kuat Sang Santri: Ilmu Tanpa Akhlak adalah Kehancuran

Dalam orasinya, Farid dan Zidniy Ilman secara lugas membedah urgensi keseimbangan antara pencapaian akademis dan pembentukan karakter sejak dini. Mereka menegaskan bahwa menuntut ilmu agar menjadi pintar adalah sebuah kewajiban, namun tumbuh menjadi manusia yang memiliki akhlak mulia jauh lebih utama.

Secara berani, mereka melontarkan kritik moral yang tajam mengenai fenomena paradoks di masyarakat: banyaknya orang dewasa yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan bergelar mentereng, namun justru kehilangan integritas hingga terjerat kasus korupsi. Bagi mereka, kepintaran tanpa kompas moral hanya akan melahirkan kerusakan sistemik bagi negara.

"Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita sedang krisis orang jujur. Pendidikan tinggi menjadi sia-sia jika hati nurani telah mati," tegas mereka di atas mimbar, yang seketika disambut gemuruh tepuk tangan dan isak tangis haru kebanggaan dari para orang tua yang hadir.

Investasi Akhirat dan Dakwah Sejak Dini

Kematangan mental Farid dan Zidniy Ilman menuai apresiasi mendalam dari jajaran pimpinan pondok. Kepala Kepesantrenan Pesantren Al-Azka, Ustadz Samsul Bahar, menegaskan bahwa kegiatan ceramah santri cilik ini bukan sekadar agenda pelengkap, melainkan instrumen wajib yang harus terus dihidupkan.

"Penampilan seperti yang dilakukan Ananda M. Farid dan Zidni Ilman ini bukan sekadar melatih mental berani bicara di depan umum. Lebih dari itu, ini adalah latihan Dakwah Sejak Dini," ujar Ustadz Samsul Bahar dengan penuh bangga.

Beliau menambahkan bahwa pembiasaan ini memiliki dampak spiritual yang besar bagi tumbuh kembang anak. "Anak yang terbiasa memegang mik untuk menyampaikan ayat Al-Qur'an dan Hadits, insyaAllah lidahnya akan terjaga dari perkataan sia-sia. Panggung kecil hari ini adalah panggung dakwah mereka yang besar di masa depan. Jadi, kegiatan ini adalah investasi keberanian dan investasi akhirat."

Meskipun tampil lugas, percaya diri, dan fasih, Ustadz Samsul Bahar berpesan agar kedua santri tersebut tidak cepat puas dan terus mengiringi kelugasannya dengan pendalaman ilmu serta adab. Beliau juga berharap momentum ini menular kepada santri-santri lainnya. "Kami ingin melahirkan 100 Farid dan 100 Zidni lagi dari Al-Azka," imbuhnya.

Matang Lewat Proses Eksplorasi Ekstrakurikuler Pondok

Kematangan performa kedua santri tersebut rupanya bukan lahir dari proses instan, melainkan hasil pembinaan terstruktur yang konsisten. Kepala Sekolah SDTQ Al-Azka Cisauk, Ustadzah Laili Ma'rifatul Azizah, S.Pd., mengungkapkan bahwa keberanian dan talenta orasi para santri merupakan bakat yang secara sengaja dibentuk dan diasah melalui program resmi pesantren.

"Ini adalah bakat yang dibentuk. Para santri digembleng kurang lebih selama satu bulan sampai mereka benar-benar hafal teksnya dan siap tampil di depan wali santri saat sambangan," terang Ustadzah Laili. Beliau menambahkan bahwa wadah eksplorasi ini difasilitasi secara rutin melalui kegiatan ekstrakurikuler public speaking yang digelar setiap hari Sabtu, satu minggu sekali.

Alasan Kuat Menitipkan Anak di Pesantren Al-Azka Cisauk

Keberanian moral, ketajaman visi, dan kematangan mental yang ditunjukkan oleh Farid dan Zidniy Ilman menjadi bukti nyata dari kualitas sistem pendidikan terpadu yang diterapkan di Pesantren Al-Azka Cisauk. Menurut Ustadzah Laili, menyekolahkan anak di lingkungan pesantren menjadi kebutuhan krusial bagi orang tua modern yang menginginkan bekal masa depan yang seimbang bagi buah hatinya.

"Menyekolahkan anak di pesantren sangat penting, terutama bagi orang tua yang ingin pendidikan agama dan pendidikan umum berjalan bersama. Di sini, anak tidak hanya belajar agama lebih mendalam, tetapi juga mendapatkan pembentukan karakter yang lebih kuat. Anak-anak belajar mandiri, disiplin, serta berada di lingkungan yang mendukung kebiasaan baik dan pergaulan yang positif," tegas Ustadzah Laili.

Menutup refleksi dari kegiatan ini, Ustadz Samsul Bahar memberikan pesan menyentuh hati sekaligus ajakan terbuka bagi para orang tua di luar sana yang masih ragu untuk memilih jalur pendidikan pesantren.

"Ayah dan Bunda, di luar sana anak kita disuguhi tontonan yang tidak mendidik setiap hari. Di pesantren, yang dilihat anak adalah Al-Qur'an, yang didengar adalah adzan, yang diajarkan adalah bagaimana berbakti kepada orang tua. Alasan kenapa harus pesantren? Karena kita tidak hanya ingin anak kita pintar dunia, tapi kita ingin punya anak yang kelak mau mendoakan kita saat kita sudah tidak ada. Dan doa itu hanya lahir dari anak yang kenal Al-Qur'an," tutur Ustadz Samsul Bahar retoris.

Beliau meyakinkan bahwa setiap anak memiliki potensi besar jika diletakkan di ekosistem yang tepat. "Lihatlah Ananda Farid dan Zidni hari ini. Dulu mereka sama seperti anak Ayah dan Bunda, malu dan belum bisa apa-apa. Tapi dengan lingkungan Al-Azka, mereka bisa. InsyaAllah putra-putri Ayah dan Bunda juga bisa. Jangan tunda kebaikan."

INFORMASI & CALL TO ACTION (CTA) PENDAFTARAN

Jangan Tunda Kebaikan! Siapkan Investasi Akhirat dan Masa Depan Pemimpin Cerdas Berakhlak Mulia Bersama Kami.

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Pesantren Al-Azka Cisauk Kini Telah Dibuka!

Dapatkan sistem pendidikan terpadu yang menyelaraskan keilmuan umum dan pendalaman agama di bawah lingkungan pergaulan yang positif, aman, dan disiplin. Bentuk mentalitas dakwah, kemandirian, dan karakter islami buah hati Anda sejak dini. Kuota terbatas untuk menjaga mutu kualitas pembelajaran.

👉   Pendaftaran Online: [KLIK LINK BIO KAMI]

👉   Layanan Informasi & Konsultasi (WhatsApp): [0857-1993-3638]

Mari Persiapkan Pemimpin Masa Depan Bersama SDTQ Al-Azka Cisauk — Cerdas Otaknya, Mulia Akhlaknya!

Foto Tampar Realitas Korupsi, Muhamad Farid dan Zidniy Ilman Pukau Orang Tua Lewat Pidato Kritis dalam Acara Sambangan Pesantren Al-Azka Cisauk